Pengertian Media Sosial Dan Implementasinya

Media Sosial secara makna awalnya bisa diartikan sebagai media atau sarana yang digunakan oleh manusia dalam rangka bersosialisasi dengan sesamanya. Oleh karena itu bentuk-bentuk atau tempat seperti tempat ibadah, pasar, teras rumah, bahkan hingga pos ronda bisa disebut media sosial. Karena cakupan ini terlampau luas atau tidak spesifik maka kita harus menentukan definisi yang baru. Maka lahirlah beberapa definisi yang kurang lebih seperti ini :

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content". Sumber : Wikipedia Indonesia.

Untuk hal-hal seperti ini saya kira Wikipedia sudah sangat cukup untuk dijadikan rujukan. Toh dari semua definisi yang ada dari sumber lainpun telah sama-sama menyebut satu istilah sebagai keyword, yaitu internet. Maka istilah media sosial harus bergandengan dengan istilah internet.

Di kantor anda ada intranet misalnya, kemudian dibangun aplikasi sejenis Facebook, lalu aplikasi tersebut digunakan sebagai ajang berbagi serta berkomunikasi persis seperti Facebook juga. Yang terlibat adalah seluruh karyawan, baik yang telah saling kenal ataupun belum. Lalu apakah yang seperti ini bisa disebut media sosial? Tentu saja tidak karena intranet bukanlah internet.

Tentang penggunaan intranet yang di dalamnya telah dibangun aplikasi sejenis Facebook pernah kami lakukan pada medio 2005 - 2008. Saat itu kami menyebutnya sebagai Portal. Cara kerja serta fiturnya mirip Facebook, minus tidak dapat meng-upload video secara langsung. Jadi jika ingin menampilkan video maka yang dicantumkan hanya link atau url-nya saja.

Pada tahun 1986, persis setelah Piala Dunia selesai, di Bandung ada booming interkom. Dengan memanfaatkan amplifier 5 - 25 watt rms, lengkap dengan mikropon dan speaker, para penduduk di kampung-kampung membangun jaringan komunikasi melalui kawat atau bahkan rel kereta api. 

Kawat email 1mm berkilo meter panjangnya ditarik sebagai jalur induk. Kemudian kawat email yang setebal 0.5mm ditarik ke rumah-rumah sebagai cabangnya, dengan demikian antara satu kampung dengan kampung lainnya bisa saling berkomunikasi. Hal ini lebih menyemarakkan keadaan setelah kehadiran radio komunikasi seperti 80 meteran dan 11 meteran. 

Kota-kota lain menyusul kemudian. Misalnya saja di Serang dan Cilegon yang booming pada tahun 1988. Saat itu interkom dibawa oleh para pendatang dari Bandung. Lalu apakah ini juga bisa disebut sebagai media sosial? Jawabannya adalah tidak.

Mengapa media sosial harus bergandengan dengan internet? Karena hal itu telah menjadi standar yang ditetapkan oleh para penggagas. Bisa jadi karena mereka menghendaki agar jangkauan media sosial ini bersifat global dari sisi infra strukturnya, bukan sektoral.

Dengan berpatokan kepada definisi atau pengertian di atas, maka secara implementasi harus disesuaikan. Bila anda hanya memiliki sebuah server skala kecil, aplikasi sejenis Facebook, dan jaringan intranet, maka jangan mengatakan telah membangun sebuah media sosial.

IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

No comments: