Pengertian dan Fungsi Komunikasi Dalam Keseharian

Pengertian dan Fungsi Komunikasi Dalam Keseharian - Istilah komunikasi adalah serumpun dengan komunitas, komunal, atau bahkan dengan komunis. Tentu saja masing-masing memiliki makna yang berbeda. Lalu apakah pengertian atau definisi dari komunikasi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah-satu pengertian atau definisi dari komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

Bila mengingat bahwa hewanpun memiliki naluri berkomunikasi di antara sesamanya, maka pengertian komunikasi di atas masih bisa digeneralisir. Misalnya seperti ini : Pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua PIHAK atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

Jika kita menelaah pengertian tersebut maka akan menemukan beberapa unsur yaitu :
  1. Unsur pengiriman serta penerimaan pesan. Kalimat ini mengandung pengertian bahwa salah-satu syarat terjalinnya komunikasi adalah apabila ada kirim-terima pesan.
  2. Unsur pemahaman setelah terjadi kirim-terima pesan. Dan justru inilah output atau hasil yang dikehendaki dari adanya suatu komunikasi.
  3. Unsur pelaku yang dalam pengertian di atas disebut sebagai PIHAK.
Ada satu poin penting bahwa komunikasi dimaksudkan untuk saling memahami, dan tidak otomatis saling menyetujui.

Berbagai jenis kegiatan seperti obrolan, perbincangan diskusi, perundingan, rapat, audiensi, dan yang semacam itu bisa jadi dmaksudkan untuk memperoleh hasil akhir berupa persetujuan, kemufakatan, atau kesepakatan tetapi secara kaidah logis akan selalu, atau semestinya, diawali oleh saling memahami. Dan untuk bisa saling memahami perlu ada komunikasi.

Di dalam berorganisasi, komunikasi adalah salah-satu sokoguru yang senantiasa harus ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu.

Kegagalan Berkomunikasi

Indikasi kegagalan berkomunikasi bukanlah ketika dua atau beberapa pihak tidak saling setuju melainkan ketika tidak saling memahami. Ketika gagal memahami sesuatu maka akibatnya bisa :
Tidak setuju terhadap sesuatu yang sebenarnya secara esensi kita menerima dan mengakui itu sebagai sesuatu yang kita inginkan atau kita butuhkan. Dan bila tidak ada kegagalan berkomunikasi maka niscaya kita menyetujuinya.

Setuju menerima atau menerapkan terhadap sesuatu yang sebenarnya secara esensi kita tidak menginginkan dan atau membutuhkan. Dan bila tidak ada kegagalan komunikasi niscaya kita menolaknya.

Kedua hal tersebut tentu dengan asumsi bahwa informasi-informasi yang ada ketika berkomunikasi tidaklah manipulatif. Atau bukan informasi tipu-tipu yang menyesatkan.

Penyebab dari gagalnya berkomunikasi amatlah banyak, penulis hanya akan menyampaikan yang dominan saja. Di antara yang dominan adalah :

Karena Tidak Mampu Menjadi Pendengar dan atau Pembicara yang Baik

Ketika komunikasi terjadi, pihak-pihak yang terlibat bukanlah pendengar dan atau pembicara yang baik. Tentang pembicara yang baik maka ada kaidah yang perlu dicermati bahwa pintar bicara jauh lebih baik dibanding banyak bicara. Pintar bicara lebih bertendensi pada kualitas kalimat-kalimat yang diutarakan, sedangkan banyak bicara lebih bertendensi pada kuantitas kalimat-kalimat yang disampaikan tersebut.

Kemudian mengapa seseorang tidak mampu menjadi pendengar yang baik? Bisa jadi karena ia memiliki ego yang tinggi sehingga hanya ingin didengar tanpa mau mendengar.

Berdasarkan pengalaman saya, selama berkecimpung dalam berbagai organisasi, seseorang yang banyak bicara bisanya tidak mampu menjadi pendengar yang baik. Dan hal ini berbeda dengan mereka yang pintar bicara. Mereka yang pintar bicara biasanya mampu menjadi pendengar yang baik. Dengan segala kesadaran dan kesabaran ia mendengarkan kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut orang lain. Maka ketika ia harus berbicara memberikan tanggapan, tidak salah interpretasi..

Karena Perbedaan Tingkat Wawasan

Adanya perbedaan wawasan ditinjau dari levelnya. Contoh, bapak A adalah seorang pakar IT yang sama-sekali tidak memahami wawasan pertanian. Pada suatu hari harus bekerja sama dengan bapak B yang pakar dalam pertanian tetapi sama-sekali tidak memahami wawasan IT. Adapun topik atau job yang harus diselesaikan adalah sebuah seminar dengan tema "Menanamkan Kesadaran Akan Pentingnya Teknologi Informasi Bagi Petani".

Karena waktu yang mepet, tidak sempat ada dialog penjajakan, dan bapak A mengasumsikan bahwa bapak B dan rekan-rekannya cukup memahami konsep-konsep dasar IT, maka dilangsungkanlah seminar pada level advance, bukan elementary. Setelah seminar diadakanlah semacam post test, dan hasilnya membuat si bapak A kecewa. Tidak ada seorangpun peserta yang memahami tentang apa-apa yang telah disampaikan pada seminar tersebut setelah mereka mengikutinya.

Karena Tidak Ada Saling Empati

Ini termasuk penyebab yang paling fatal. Ketika dua pihak yang tidak saling berempati mengadakan komunikasi, maka yang terjadi sangatlah mungkin bukan saling memberikan informasi tetapi saling memaki, entah dalam arti sebenarnya ataupun arti kiasan.

Dalam kehidupan sehari-hari pastilah kita menemukan fakta demi fakta bahwa antara kampung anu dengan kampung anu selalu terjadi saling pertikaian meskipun berkali-kali diupayakan adanya perdamaian. Atau mungkin perseteruan panjang antara dua kelompok suporter sepakbola. Dan tentu ada pula ketidakcocokan permanen di antara partai ini dengan partai itu di dunia politik.

Bisa jadi faktor tidak adanya saling empati menjadi penyebab kegagalan berkomunikasi yang paling sulit untuk diperbaiki. Andaipun komunikasi di antara mereka ditata-ulang maka besar kemungkinan tetap terperosok pada lubang yang sama, yaitu lubang tempat dimana mereka terus bertikai.

Mungkinkah timbul sikap tidak saling empati di tubuh suatu organisasi? Jawabannya sangat mungkin. Bahkan bisa terjadi bukan hanya di organisasi kacangan yang tidak selektif, melainkan juga di dalam tubuh organisasi yang sedemikian ketat atau selektif di dalam melakukan perekrutan anggota serta pengangkatan para pengurusnya.



Pengertian dan Fungsi Komunikasi Dalam Keseharian

IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

No comments: