Sabtu, 14 November 2015

Yang Pantas Untuk Kucing Atau Binatang Lainnya Dalam Pemakaian Bahasa Indonesia


Di jaman manusia senang mengkritik tapi mudah tersinggung saat dikritik artikel ini terbit. Harapannya tiada lain adalah mendudukkan sesuatu secara semestinya tanpa perlu ada pihak-pihak yang tersinggung.

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan kita yang telah digunakan secara luas, bukan hanya di Indonesia secara mayoritas, tapi juga di negara lain secara minoritas. Dan semestinya kita merasa bersyukur, atau setidaknya gembira.

Kembali kepada permasalahan klasik, jika bukan kita sendiri, sebagai bangsa Indonesia, yang peduli pada bahasanya, lalu siapa lagi? Maka berkaitan dengan itulah saya mencoba usaha kecil ini dalam rangka menjaga bahasa Indonesia. Termasuk dalam hal kekeliruan pemakaian kata.

Meskipun tidak mengenal kromo inggil seperti dalam bahasa Jawa, atau undak-usuk basa dalam bahasa Sunda, maka bahasa Indonesiapun sedikit memiliki strata atau tingkatan rasa bahasa. Hal ini jelas terlihat pada beberapa contoh kalimat berikut ini :

"Kapan anda pergi ke Surabaya, pak?", tanya Midun kepada tetangga barunya.
"Kamu sudah mengerjakan PR belum?", tanya pak Anton pada Sinta, anaknya.

Anda dan kamu adalah kata ganti orang kedua tunggal yang sangat jelas bagaimana cara menempatkannya. Akan terasa janggal atau bahkan menggelikan apabila ada kalimat seperti ini :

"Anda sudah mengerjakan PR belum?", tanya pak Anton pada Sinta, anaknya.

Ada beberapa contoh kalimat lagi :

Nabi Muhammad wafat pada usia 63 tahun.
Banyak pahlawan bangsa yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Tetanggaku meninggal karena sakit.
Ratusan ribu orang tewas akibat bencana alam yang sangat dahsyat itu.
Kucingku mati karena tertabrak motor.

Maka betapa janggalnya, bahkan terasa sangat menggelikan bagi yang mengerti, bila ada kalimat seperti ini :

Kucingku wafat karena tertabrak motor.
Kucingku gugur karena tertabrak motor.
Kucingku meninggal karena tertabrak motor.
Kucingku tewas karena tertabrak motor.

Saya yakin seyakin-yakinnya, siapapun guru bahasa Indonesianya, tidak akan pernah mengajarkan untuk menggunakan empat kalimat di atas yang subjeknya adalah kucing.

Saya sendiri agak bingung ketika akhir-akhir ini ada orang, bisa jadi ia sekolah cukup tinggi, tapi justru mengatakan, "Kucingku wafat". Atau "Kucingku meninggal."


Semoga artikel singkat ini menjadi kritik yang membangun dan ditanggapi secara positif.

Selanjutnya : Kucing Bukanlah Binatang yang Serakah

Demikianlah artikel dari Kontakmedia yang berjudul Yang Pantas Untuk Kucing Atau Binatang Lainnya Dalam Pemakaian Bahasa Indonesia, semoga bermanfaat. Dan terima kasih untuk Anda yang telah berkunjung ke blog ini.