Berbagai Penyebab Web atau Blog Ditinggalkan Pengunjung


Di dunia blogger ada beberapa kelompok, yaitu :
  1. Mereka yang gemar menulis di blognya dan gemar pula membaca atau mengunjungi blog orang lain,
  2. Mereka yang hanya gemar menulis di blognya dan tidak suka mengunjungi blog orang lain,
  3. Mereka yang hanya gemar membaca blog orang lain dan tidak suka menulis di blognya sendiri. Atau malah mereka tidak punya blog.
  4. Mereka yang tidak suka membaca dan menulis di blog meskipun memilikinya.
  5. Mereka yang pantas disebut blog master karena selain senang menulis di blog, senang membaca, juga memiliki kemampuan merancang template blog serta trouble shoting.
Dari keseluruhan kelompok tersebut saya akan menempatkan mereka pada satu posisi, yaitu sebagai pembaca blog. Tentu dengan mengecualikan yang nomor 4.

Sebagai pembaca blog tentunya secara implisit sudah bisa meraba kira-kira blog seperti apa yang disukai serta yang tidak. Begitulah, karena memang ada beberapa hal yang bisa berlaku umum, yakni ketika kita karena alasan tertentu tidak menyukai suatu blog maka orang lainpun bersikap sama dengan alasan yang sama pula.

Hitung-hitung melakukan suatu review terhadap eksistensi blog, maka kita akan menelisik tentang hal apa saja yang tidak disukai pembaca sehingga ditinggalkan? Inilah beberapa di antaranya :


Blog yang Lemot

Apakah anda menyukai suatu blog yang lemot? Pasti tidak, dan hal inipun tidak disukai pula oleh orang lain. Banyak hal yang menyebabkan sebuah blog menjadi lemot. Kita akan membahasnya pada artikel yang lain.

Saya menempatkan isu blog lemot ini sebagai pembuka atau yang pertama karena pengaruhnya mayor atau dominan.

Bila anda memiliki blog yang bagus dari segi konten, maka itu akan menguap seketika ketika untuk membuka halaman pertamanya saja butuh waktu di atas 5 detik.

Blog yang Terlalu Banyak Memuat Iklan Mengganggu

Banyak blog yang tidak pernah lagi saya kunjungi karena terlalu banyak memuat iklan yang mengganggu. Saya garisbawahi, iklan yang mengganggu, karena jika tidak mengganggu bukan masalah.

Sungguh tidak nyaman ketika sedang asyik membaca sebuah uraian, tiba-tiba ada popup besar muncul. Atau ketika mengklik suatu link, tidak langsung membuka link yang dituju, tapi terlebih dahulu diarahkan ke halaman iklan di halaman baru.

Memang, memasang iklan jenis apapun merupakan hak bagi pemilik blog. Tetapi para pembacapun berhak pula meninggalkannya.

Bila anda termasuk yang sangat terobsesi untuk memperoleh penghasilan dari ngeblog, dan itu melalui tampilan-tampilan berbagai teknik iklan, maka lebih baik membuat web atau blog yang niche-nya memang iklan.

Beberapa jenis iklan yang tidak mengganggu adalah seperti iklan statis dan advertorial. Dalam banyak kasus, iklan-iklan jenis ini bahkan bisa berfungsi sebagai pengaya konten dan penghias situs. Keberadaannya begitu menyatu dengan tampilan web.

Memilih jenis iklan memang menjadi sesuatu yang krusial bagi web atau blog. Di satu sisi agar iklan mampu menghasilkan maka trafik blog harus tinggi. Di sisi lain kehadiran iklan yang salah malah berpotensi besar menurunkan trafik.


Blog yang Miskin Informasi atau Menyesatkan

Salah-satu alasan orang mau membaca blog adalah karena membutuhkan informasi yang akurat. Dan bila itu tidak didapatkannya dari blog yang sedang ia baca, maka ia akan kabur secara permanen. Mungkin artikel ini cukup sebagai gambaran yang lebih gamblang : 100% Jangan Percaya Pada Topeng Mereka.


Blog yang Tidak Interaktif

Maksud interaktif di sini bukan hanya bisa saling berbalas komentar, tapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana caranya memenuhi kebutuhan pembacanya.

Anggap anda sedang membaca sebuah tutorial yang memang dibutuhkan, di sana ada sejumlah script kerja. Dan web atau blog penyajinya menerapkan anti copy-paste. Sebatas tidak bisa dicopas uraian-uraiannya itu bagus, tapi jika sampai script-scriptnyapun diproteksi, maka blog seperti ini sangat layak untuk ditinggalkan.

Uraian lebih detail tentang interaksi ini bisa anda baca pada : Etika Menerapkan Copy-Paste Pada Website atau Blog.

IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

No comments: