Peran Para Budayawan Dimanakah Seharusnya?

Peran Para Budayawan Dimanakah Seharusnya?

Salah-satu ancaman primer bagi bangsa Indonesia adalah soal mata-pencarian. Dan mata-pencarian ini termasuk pada unsur sosial-budaya. Berbicara soal budaya maka tentulah akan menyentuh peran para budayawan.

Mengikuti alur pemikiran beberapa budayawan juga para sosiolog, demikianlah mereka disebut, nampaknya tidak berada pada jalur mempersiapkan bangsa untuk mengantisipasi ancaman tentang mata-pencarian. Padahal prioritas untuk sebuah bangsa tentunya.

Mereka lebih sibuk berbicara soal krisis moral, yang jelas-jelas wilayah bahasannya bertabrakan dengan fungsi utama para moralis dan agamawan. Dari agama apapun para agamawan tersebut. Peran para budayawan nampak bersilangan dengan para agamawan tadi.

Bila pada prakteknya ada kolaborasi konsep, misalnya saja para budayawan yang beragama Islam menggunakan konsep zakat dalam partisipasi membangun ekonomi umat, itu tentu tidak salah. Malah sangat relevan.

Lalu para budayawanpun lebih sibuk pada isu krisis seni-budaya. Mereka nampak sangat ketakutan ketika seni etnik suatu saat benar-benar mati, kalah dalam pertempuran melawan seni impor. 

Ya, ketakutan yang wajar sebenarnya, dan ujung-ujungnya, salah-satu sumber ketakutan itu di antara banyak hal, adalah takut kehilangan mata-pencarian juga. Khusus di kalangan mereka tentunya, karena tidak semua orang Indonesia berprofesi menabuh gamelan. :D

Apapun permasalahan bangsa ini akhirnya akan bermuara pada tindakan pemerintah, namun demikian para budayawan semestinya mau mengambil peran pula sebagai pendorong. Kalau dari kalangan non budayawan sih, aktifis serikat karyawan misalnya, sudah berteriak paling keras sejak dulu.

Mata-pencarian merupakan jalan bagi manusia memenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, dan papan. Tidak mendengarkan musik selama 10 tahun bukan masalah, tapi tidak makan selama 10 hari boleh dicoba rasanya.

Sejak industrialisasi setengah hati berjalan di Indonesia, problematika mata-pencarian telah menjadi bola salju dan menjadi penyulut problematika sosial-budaya yang lain. Termasuk diantaranya adalah merebaknya premanisme.

Ketika ini ditulis, saya masih tercukupi kebutuhan primernya, alhamdulillah. Dengan demikian tujuan dari opini ini tidak didasari oleh kepentingan pribadi semata-mata, namun lebih berdasarkan kepentingan umum untuk kini dan nanti.

Semoga para budayawan kita mampu menyusun prioritas permasalahan agar tepat sasaran saat bertindak.

Peran Para Budayawan Dimanakah Seharusnya?

IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

No comments:

Terima kasih bila anda berkenan berkomentar secara relevan.
Dan tunggu kunjungan balik saya ke situs anda.