Membangun Kepemimpinan adalah Naluri Makhluk

Membangun Kepemimpinan adalah Naluri Makhluk - Istilah naluri didefinisikan secara jelas dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, uraiannya adalah sebagai berikut :

Kata benda :
  1. dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir,
  2. pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu,
  3. sinonimnya adalah insting.

Psikologis :

perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup.


Biologi :
  1. serangkaian kegiatan refleks terkoordinasi, masing-masing terjadi apabila yang sebelumnya telah diselesaikan,
  2. reaksi yang tidak bergantung pada pengalaman.
Dari semua definisi di atas ada sejumlah sifat dari naluri yaitu alami, dibawa sejak lahir, tidak dipelajari, dan tidak tergantung pengalaman. Beberapa contoh dari perbuatan manusia yang didasari oleh naluri adalah :
  1. Menangis untuk pertamakalinya saat dilahirkan,
  2. Mempertahankan hidup. Ketika bayi misalnya, disaat belum ada pelatihan apapun yang diterima, bayi sudah bisa menyusu pada ibunya,
  3. Melakukan interaksi sosial. Hal ini juga ditunjukkan oleh bayi dengan memperlihatkan respon-respon khas saat mendapat stimulasi dari manusia sekelilingnya.
Pada tahapan selanjutnya, yaitu ketika otaknya telah mulai bisa menyimpan memori, umumnya mulai di usia 4 tahun, manusia mulai menyadari adanya kepemimpinan. Menghampiri ketika dipanggil oleh orang tuanya, taat terhadap berbagai larangan dari orang tua, menirukan berbagai ucapan yang dikatakan orang tua, dsb adalah tanda-tandanya.

Naluri Membangun Kepemimpinan


Perjalanan hidup manusia memang senantiasa diiringi oleh salah-satu isu penting, yaitu kepemimpinan. Dalam lingkup terkecil, seorang individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, kemudian sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, atau karena faktor x, lingkup kepemimpinannya meluas.

Pembicaraan tentang kepemimpinan di kalangan manusia selalu menarik, baik dalam kemasan atau uraian yang semenjana hingga yang gemerlap oleh keilmuan. Dan bila memandang pada fenomena alam, maka perihal kepemimpinan ini bukanlah monopoli manusia, binatangpun mengenalnya. Tentu berdasarkan naluri semata, tanpa adanya peran akal.

Di antara binatang, bebek adalah yang termasuk mudah diamati fenomenanya. Bila mereka berjumlah lebih dari seekor dan berjalan, maka tampaklah pola seperti iring-iringan. Salah-seekor dari mereka, biasanya adalah yang berukuran paling besar, memimpin di depan.

Perilaku para bebek adalah mengikuti saja ke arah mana si pemimpin berjalan, dan bagi mereka tidak ada resiko karena si pemimpin selalu membawa ke arah yang tepat sesuai kebutuhan. Dan di antara arah yang dituju oleh sang pemimpin adalah lahan yang menyediakan makanan alami, tempat becek, ataupun perairan seperti danau, kolam, atau sungai.

Bisa saja para bebek itu mengalami kecelakaan, misalnya ketika ada predator. Tetapi itu bukan kesalahan dari sang pemimpin. Hukum alamlah yang menentukan, bahwa rantai makanan harus berjalan.

Kepemimpinan adalah Naluri Dasar Makhluk

Lalu pada semutpun kita akan menemukan fenomena kepemimpinan. Bisa jadi strukturnya lebih rumit dibanding bebek, karena pada koloni semut dikenal bermacam-macam pembagian tugas.

Koloni Semut

Dalam pola yang lebih kompleks, pada manusiapun naluri membangun kepemimpinan tentu ada. Contoh konkrit adalah ketika sekelompok manusia melakukan perjalanan. Sekalipun tanpa sebuah kesepakatan atau ikrar maka sang pemimpin akan muncul secara alami. Dorongan untuk membangun kepemimpinan ini datang begitu saja secara naluriah meskipun, khusus untuk kaum muslimin, mereka belum mengenal hadits tentang amir safar (pemimpin perjalanan).

Lalu parameter apa saja yang menjadikan seseorang bisa menjadi pemimpin perjalanan? Tentu banyak, misalnya saja karena lebih paham arah jalan, paling tua, paling tinggi status sosialnya, dsb.

Urusan manusia tentulah bukan sebatas melakukan perjalanan, tetapi juga untuk hal lain yang lebih luas, seperti berorganisasi, bermasyarakat, hingga bernegara. Pada lingkup-lingkup seperti ini, membangun kepemimpinan tentu bukan semata-mata berdasarkan naluri, tetapi juga didasari oleh selera, kepentingan, kebutuhan, keberpihakan, strategi, dsb.


IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

No comments:

Terima kasih bila anda berkenan berkomentar secara relevan.
Dan tunggu kunjungan balik saya ke situs anda.