Gaya Unik Pada Polemik Di Dunia Maya


Pilkada dan pilpres telah melahirkan beragam polarisasi di masyarakat paska pelaksanaannya. Dan lahirnya polarisasi-polarisasi tersebut tentu saja bukan tujuan melainkan hanya efek samping. Dan bila ingin mereduksi efek samping tersebut, prakteknya kembali kepada masyarakat itu sendiri, mau terus gaduh atau berhenti.

Untuk pilpres misalnya, selisih perolehan suara yang tidak terlampau signifikan, telah memacu timbulnya kesetimbangan keberanian dalam berpolemik. Keberanian yang setimbang inilah yang akhirnya mengesankan ada polemik berkepanjangan di berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk mediamassa. Dan muaranya nanti akan sampai ke akar rumput.

Sejatinya kaum akar rumput bukanlah pihak yang banyak tahu tentang perilaku atau dinamika politik yang ada, atau sejatinya malah mereka tidak tahu sama-sekali, tetapi mereka menerima pasokan informasi dari mediamassa. Dan berdasarkan informasi itulah polemik berlanjut hingga di tingkat akar rumput. Dengan demikian dapatlah disimpulkan, bahwa berbagai warna polemik yang terjadi masyarakat tingkat akar rumput sekarang ini, sesungguhnya adalah warna-warna polemik mediamassa.

Jika mau jujur mengakui kenaifan, maka sebenarnya para pelaku polemik di tingkat akar rumput, tidaklah lebih dari sekedar objek penderita. Mereka menderita sesuatu yang disebut fanatisme buta. Buta tapi merasa melihat. Tidak tahu tapi merasa tahu. Dan modalnya tidak lebih dari sekedar berbagi atau share berita dari suatu mediamassa. Akhirnya yang timbul adalah sekedar perang berbagi berita. Dan jika demikian maka siapa yang untung dan siapa yang rugi sudah bisa diketahui.

Lalu mengapa mereka mengambil porsi kebodohan itu secara sadar? Alasan yang logis adalah karena berita-berita dari mediamassa itu dianggap sanggup mewakili seleranya. Dianggap pas sebagai dasar argumentasi saat berpolemik. Dan seolah-olah mereka ingin mengatakan demikian, "Apa yang kamu sampaikan itu salah, berita ini yang benar!"

Ada fenomena unik belakangan ini. Bila biasanya kaum wanita memilih sikap untuk diam, karena secara naluri mereka lebih menyukai iklim yang tentram, namun sekarang tidak sepenuhnya demikian. Cukup banyak para wanita yang melibatkan diri pada polemik berwujud perang share berita ini, dan dengan gaya yang sering mengundang senyum simpul. Misalnya begini :

Pada suatu hari seorang wanita membaca status seseorang, yang menurut penilaian dia telah memojokkan tokoh yang dikaguminya. Hatinya jengkel dan dongkol tapi untuk langsung menangkis status tersebut dia enggan. Mungkin karena masih ada perasaan bahwa berkonfrontasi langsung adalah tidak etis, maka dia menyabar-nyabarkan dirinya beberapa hari.

Setelah beberapa hari berselang barulah dia memosting status, lengkap dengan link berita yang memuji-muji sang tokoh. Ada aksi tentu ada reaksi, dan sebuah reaksi sangat mungkin memunculkan reaksi lainnya. Melihat si wanita memosting sesuatu yang berlawanan, si seseorang tadi merasa jengah, maka iapun menyiapkan senjatanya pula. Senjata yang sama yakni berupa link berita. Dan link tersebut ia postingkan beberapa hari kemudian. Isi beritanya tentu saja yang kembali memojokkan si tokoh. Demikianlah, polemik tersebut terus berkelanjutan.

Para pembaca yang budiman, bisa jadi hingga lima tahun ke depan suasana seperti ini tidak akan berhenti bila tidak ada kesadaran massal.

Ada jargon politik yang menyatakan bahwa tidak ada persahabatan dan permusuhan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Maka berdasarkan jargon tersebut bisa saja politisi A dan politisi B yang pada hari ini berseteru akan bermesra-mesraan di lain waktu. Sementara para pendukungnya di akar rumput, karena fanatisme buta, keluguan, ketulusan dan kenaifannya, tetap berseteru.

IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

7 comments: