Alangkah Indah Hukuman Seorang Guru Pada Muridnya

Alangkah Indah Hukuman Seorang Guru Pada Muridnya

Pak Nurahman, guru SMP Negeri 3 Bandung tahun 1980-an, termasuk kategori "Killer Teacher". Dan sungguh indah karena aku sempat menjadi korbannya.

Saat itu aku berada di kelas 2F, guru biologi (saya lupa namanya, beliau guru wanita), sedikit telat masuk kelas. Namanya bocah, kami gaduh di kelas.

Menderu bagaikan badai gurun, pak Nurahman masuk. Cesss, kelas menjadi hening. Kutinggalkan Intan yang hampir mengalahkanku pada adu panco.

(Maaf, Tan. Semoga kamu tidak terganggu oleh tulisanku ini jika suatu saat kamu membacanya. Sungguh, ini hanya kisah masa bocah yang masih bisa kuingat. Dan mungkin teman-teman telah lupa. Lewat tulisan ini aku hanya ingin memberikan dukungan moral kepada para guru dengan caraku.)

Aku kembali ke bangku dan duduk bersama Syarif. Pak Nurahman dengan wajah tegangnya berkata, "Jangan gaduh kalau guru terlambat ke kelas. Kalian buka saja buku pelajaran!"

Sejurus kemudian beliau berlalu dan hilang di balik pintu.

Sambil bersiul aku membuka tas dan akan mengambil buku biologi, tapi tiba-tiba saja si guru tinggi besar itu sudah berada di depanku.

Plak! Plak! Dua kali aku ditampar, kelas menjadi jauh lebih hening dari tadi. Rupanya siulanku telah mendatangkan bala-bencana.

"Keluar kamu!" Bentak pak Nurahman.

Tidak ada yang dapat kulakukan kecuali keluar meninggalkan kelas. Benakku dipenuhi pertanyaan, bagaimana bisa beliau menamparku dengan cukup keras tapi tidak sakit? Rasanya pipiku hanya seperti ditekan, tapi dengan gerakan menampar.

(Bila Intan yang menamparku, atau Ida, atau Mulyani, mungkin malah akan terasa sakit. Karena mereka belum menguasai jurusnya. Haha!).

Cukup keras saya mengingat-ingat siapa guru biologi itu, bila tidak salah beliau bernama Zubaidah. Orang Sunda umumnya tentu memanggilnya sebagai Jubaedah, meskipun ditulis Zubaidah.

Memang, umumnya huruf F dan Z menjadi kendala khusus bagi para Sunda. :-)

Sekitar seperempat jam saya berada di luar kelas, dan memilih duduk-duduk di bangku mushala. Tentu dengan wajah sendu.

Entah apa yang terjadi selama saya berada di luar tersebut, tapi yang jelas bu Zubaidah menghampiri. Kemudian menggamit tangan agar saya berdiri.

Pundak saya dipeluk erat dan diajak ke dalam kelas. Tidak ada sepotong katapun keluar dari mulutnya. Setelah saya duduk, beliau membelai kepala saya sambil tersenyum. Tetap tanpa kata.

Sebagai bocah saat itu, tentu saja saya tidak dapat menilai peristiwa tersebut dari banyak sisi. Yang tertanam dalam pikiran adalah satu saja, jangan pernah bersiul-siul di dalam kelas.

Berita cepat tersebar, tapi tidak ada seorangpun di antara teman-teman yang mengolok-olok. Bahkan anak-anak yang berkategori bandel dan tukang berkelahi macam Salman, Rudi, dan Waldemar sekalipun. Mereka malah seperti apresiatif pada saya.

Di kelas 3B saya sekelas dengan Waldemar, anak yang satu ini kerap memaksa teman-teman untuk memberikan sontekan. Suatu saat ia meminta pula pada saya. Tentu saja saya menolak sambil berkata, "Pék ari hayang ditampiling mah ku pa Nurahman!" Dan ia langsung ciut.

(Peringatan saya pada si Waldemar mungkin tidak akan ampuh di masa kini. Sebabnya jelas yaitu guru yang berani menampar muridnya akan berurusan dengan hukum.)

Saya menutup kisah di SMPN 3 Bandung dengan mencatatkan diri sebagai ranking 2 terbaik di kelas dan ranking 4 terbaik di sekolah. Dan yang mengalahkan saya semuanya adalah wanita. Selisih nilainya tipis-tipis saja, tapi kalah sih kalah saja yaaa. Hehehe.

Prestasi tersebut tentu tidak ada hubungannya dengan tamparan pak Nurahman. Buktinya tanpa ditamparpun si Rina bisa menjadi yang terbaik nomor satu di sekolah pada saat pembagian ijazah.

Berpuluh tahun setelah itu saya mendapat pengajaran dari Ary Ginanjar Agustian. Ia mengangkat fakta bahwa IQ bukanlah kunci utama untuk sukses.

Jadi intinya mencetak siswa yang bernilai ijazah tinggi saja tidak cukup, faktor mental dan spiritual itu juga sangat perlu diperhatikan. Dan dalam hal ini terkadang guru perlu menghukum muridnya. Tentu bila si murid tersebut nakal berlebihan.


Bila disebut hukuman tentu saja berbeda dengan siksaan, baik secara kadar ataupun tujuan. Dalam hal ini hukuman dari seorang guru adalah kontrol terhadap perilaku buruk siswa. Lalu apa jadinya bila guru yang menghukum malah dijerat hukum?

IKLAN INI BUKAN BAGIAN DARI ARTIKEL

No comments: