Minggu, 15 Mei 2016

Ulasan Sinetron Pedang Naga Puspa


Dengan memaksa diri saya terus menonton tayangan demi tayangan sinetron yang berjudul Pedang Naga Puspa. Sinetron tersebut disiarkan oleh salah-satu stasiun televisi swasta Indonesia. Saya katakan memaksa diri karena sejak tayangan perdanapun sinetron tersebut nampak tidak memiliki greget. Tapi tetap saya tonton karena ingin peduli pada karya anak bangsa.

Bila saya mampu memaksa diri, ternyata tidak demikian dengan yang lain. Mereka setelah menonton tayangan perdananya, langsung tidak mau menonton lagi pada tayangan selanjutnya. setidak-tidaknya itu yang saya perhatikan dari orang-orang terdekat.


Sinetron Pedang Naga Puspa yang merupakan remake dari cerita Tutur Tinular ini ratingnya memang tidak bagus sehingga sinetron ini tidak tayang lagi. Sinetron Pedang Naga puspa sempat dirubah jam tayangnya beberapa kali namun rating sinetron ini masih jauh di bawah harapan.

Memang, tetap ada segmen tertentu yang menggandrungi sinetron ini, tetapi sepertinya tidak luas. Sungguh berbeda dengan sinetron Tutur Tinular produksi tahun 1997 yang sedemikian mampu memikat hati banyak pemirsa.

Para fans yang menunggu sinetron ini tayang setiap harinya tentu kecewa karena tentu tidak akan dapat menyaksikan sinetron ini lagi. Sinetron Pedang Naga Puspa akhirnya resmi tamat tanggal 31 Desember 2015 padahal ceritanya masih belum berakhir.

Lalu faktor apa sih yang membuat sinetron tersebut tidak begitu mampu memikat penonton? Beberapa di antaranya adalah :

Tidak di-dubbing

Entah pertimbangan apa yang membuat sinetron Pedang naga Puspa tidak mau menggunakan jasa para dubber. Padahal hal ini jelas telah memutus suatu "tuah" keberhasilan.

Pihak produsen mungkin lupa bahwa keberhasilan sebagian besar sinetron kolosal Indonesia tahun 1990-an adalah karena peran para dubber sebagai salah-satu kunci suksesnya. Tuah ini didapat karena para produsen saat itu sangat paham bahwa booming Sandiwara Radio bisa dijadikan inspirasi.

Entah karena fakta bahwa sandiwara radio tidak lagi booming, atau karena hal lain, maka peran para dubber tidak lagi dilirik. Padahal jika menilik keberhasilan sejumlah film serial impor, yang sejenis dengan sinetron, seperti Mahabharata misalnya, para dubber justru memberi kontribusi yang sangat signifikan.

Tidak seperti sinetron impor, sinetron Indonesia adalah berbahasa Indonesia, sehingga dari sisi praktis bisa saja tidak menggunakan peran dubber. Tetapi yang nampaknya tidak boleh dilupakan, sejak tahun 90-an atau bahkan 80-an, telinga para pemirsa Indonesia telah kadung dimanjakan oleh suara para dubber yang berkarakter khas dan kuat.

Gagal Menghidupkan Peran Peramai

Dalam benak para kreator sinetron ini, mungkin ada semacam keinginan untuk memberi sentuhan melalui peran para tokoh peramai.

Ingat sinetron Jaka Tingkir tahun 90-an yang cukup sukses? Ya, di sana ada tokoh Dadung Awuk. Perannya cukup sukses dalam menghidupkan suasana. Sayangnya hal ini gagal diulangi pada sinetron Pedang Naga Puspa. Tokoh Wirot nyaris tidak mampu meramaikan suasana.

Peran Beberapa Tokoh Utama Yang Ganjil

Nampaknya pemeran tokoh Raden Wijayapun termasuk yang gagal membawa misi keberhasilan sinetron ini. Karakter Raden Wijaya terkesan meledak-ledak, nyaris mirip seperti Ardaraja. Terlebih agak sering terlihat mimik sinis. Hal ini terasa sebagai sebuah degradasi dibanding Tutur Tinular 1997.

Pemeran Arya Dwipangga malah nampak lebih pas untuk memerankan Raden Wijaya, dan sebaliknya.

Pada Tutur Tinular 1997 tokoh Raden Wijaya mendulang sukses ketika diperankan oleh Agus Kuncoro, yang mendapat penguat karakter dari dubber sekelas Edy Dosha.

Tokoh Mpu Tong Bajil nampaknya ditata-ulang atau ditampilkan berbeda secara karakter dibanding pada sinetron Tutur Tinular. Dari segi tongkrongan sebenarnya tidak ada masalah, tapi dari sisi karakter justru sangat mengganjal. Tokoh yang satu ini jarang berdialog panjang, namun sekali berkata-kata kesannya malah melelahkan untuk didengar.

Menurut saya Baron Hermanto terlalu lebay dalam memerankan Mpu Tong Bajil. Terutama dengan cerocosan "bla...bla...bla...kotoran codot" yang terlalu sering diulang-ulang.

Tidak semua gagal memang, tokoh Kamandanu terbilang berhasil, juga tokoh Mpu Ranubaya yang diperankan oleh Barry Prima. Tokoh Mpu Ranubaya juga ditata-ulang. Bila pada sinetron Tutur Tinular ia terkesan agak konyol, terutama ketika mempermainkan para tamu dari Mongol, maka pada sinetron Pedang Naga Puspa malah terkesan serius. Tapi penataan ulang untuk karakter Mpu Ranubaya nampak tidak bermasalah.

Akting para pemeran tokoh seperti Kamandanu, Dewi Sambi, Mpu Ranubaya, Mpu Renteng, Nari Ratih, Ranggalawe, Nambi, Lembu Sora, dan yang lainnya nampak baik-baik saja, meskipun tanpa dukungan dubber.

Seting Suasana yang Tidak Alami

Dari segi gambar dan efek, sinetron Pedang Naga Puspa memang lebih baik dibanding sinetron Tutur Tinular 1997. Hal ini tentu karena penerapan teknologi yang lebih modern. Tapi sayangnya kualitas gambar dan efek yang lebih baik ini berada pada suasana yang terkesan tidak alami. Atau mungkin pula kesan tidak alami ini timbul karena efek yang tidak tepat guna.

Penyebab Lain

Nampaknya ada satu penyebab lain yang menjadikan sinetron Pedang Naga Puspa ini kurang sukses. Penyebab itu tiada lain adalah eksistensi sejumlah sinetron impor.

Sejumlah film serial impor, yang sebenarnya sama saja dengan sinetron kolosal, seperti Mahabharata, Ramayana, Krishna, Suryaputra Kharn, dan sejenisnya, nampak jauh lebih mampu memikat hati pemirsa.

Sekarang sinetron Pedang naga Puspa tidak lagi tayang. Hal yang sebenarnya sangat saya sayangkan. Karena walau bagaimana saya tetap mencintai karya anak bangsa sendiri. Seperti apapun kualitasnya.

Saran

Belum tentu berhasil juga memang. Tapi perlu dicoba. Jika ingin menayangkan sinetron kolosal semacam ini maka lebih baik menggunakan style seperti Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, atau Mahkota Majapahit produksi tahun 90-an. Dan yang perlu dilakukan hanyalah memperbaiki kualitas gambarnya saja.

Dibanding sinetron-sinetron kolosan Indonesia tahun 2000-an, sinetron kolosan Indonesia tahun 1990-an memang hanya kalah dari sisi kualitas gambar. Selebihnya menang telak.

Demikianlah artikel dari Kontakmedia yang berjudul Ulasan Sinetron Pedang Naga Puspa, semoga bermanfaat. Dan terima kasih untuk Anda yang telah berkunjung ke blog ini.