Minggu, 31 Juli 2016

Banjir Darah Di Tepi Sungai Tambakberas - Bagian Keenam

Banjir Darah Di Tepi Sungai Tambakberas - Bagian Keenam

Kembali ke pertarungan antara Nambi dan Lawe. Belum ada tanda-tanda siapa yang akan muncul sebagai pemenang. Wajah Lawe nampak membesi, sementara Nambi datar-datar saja.

“Setan alas kau Nambi, jangan dulu kau senang karena berhasil menahan gempuran-gempuranku. Mari kita melanjutkan pertarungan!”

“Ayolah Lawe, tidak nantinya aku akan mundur!”

Rangga Lawe berdiri tegak bagaikan arca bairawa, tiba-tiba saja tanah di sekelilingnya terasa bergetar bagaikan terkena lindu. Tubuhnya bergetar dan perlahan mengeluarkan cahaya jingga. Itulah pertanda ia mengeluarkan ajian Bajranata atau Kilatbumi.

Dengan gerakan sangat cepat Lawe mengeluarkan senjata andalannya, keris Megalamat. Cahaya biru kehijau-hijauan segera menebar, maka nampaklah pemandangan yang sangat indah. Larikan-larikan cahaya biru berpadu dengan cahaya jingga. Sungguh nampak jelas karena langit mendung saat itu.

Aneh, Nambi malah tenang-tenang saja. Dan hal ini tentu saja membuat Lawe semakin geram. Dengan trengginas ia menyerbu Nambi. Serangan itu sedemikian mendebarkan karena diiringi oleh bunyi menggemuruh yang keras.

Tusukan keris Megalamat Rangga Lawe tepat mengarah ke dada. Ketika ujung keris tersebut hampir sampai, tubuh Nambi terdorong sejengkal ke belakang. Mendapati serangannya gagal, reflek tangan kiri Lawe bergerak menjotos ke arah kepala, namun lagi-lagi gagal karena kepala Nambi merunduk. Lagi-lagi jaraknya adalah sejengkal.

Nambi seakan membiarkan dirinya diserang habis-habisan, namun tidak ada satupun serangan Lawe yang mengenai sasaran. Semuanya terhindarkan dengan jarak satu jengkal. Itulah perbawa dari aji Lembu Sekilan.

*****

Nambi bukanlah pendekar yang menyukai pertarungan atau peperangan, ia lebih suka bersikap seperti seorang cendekiawan. Hal inilah yang membuat dirinya lebih banyak mempelajari ajian-ajian untuk pertahanan diri. Dari ayahnya ia mempelajari aji Lembu Sekilan sementara dari mertuanya mempelajari aji Bayunetra.

Meskipun demikian bukan berarti Nambi tidak mampu mengalahkan atau membunuh lawan. Ketika terjadi penyerbuan ke kediri, ia berhasil membinasakan seorang senapati yang bernama Kebo Rubuh.

Saat itu Nambi membiarkan Kebo Rubuh menyerangnya habis-habisan. Dan ketika lawannya telah sangat kelelahan maka nabi segera melakukan serangan balik. Pedang Kalatanda miliknya menuntaskan pertarungan sengit itu. Kebo Rubuh yang kebal memang tidak mempan dilukai dari luar oleh pedang Kalatanda, tetapi tetap saja ia mengalami luka dalam yang parah.

Kembali ke medan pertempuran.

Diam-diam Anabrang merasa khawatir dengan perkembangan pertarungan.  Pukulan-pukulan jarak jauh Rangga Lawe sudah mulai menyasar ke tempat-tempat jauh ketika Nambi menghindar. Anabrang khawatir pasukannya terkena sasaran. Segera ia memejamkan matanya sambil berkomat-kami.

Udara tiba-tiba berubah menjadi dingin. Kabut tipis turun ke arah pasukan, semua prajurit rendahan terperangah namun tidak lama. Sesaat saja kabut tersebut hadir dan selanjutnya menghilang. Suasana kembali tenang.

Apa yang dikhawatirkan Anabrang terjadi. Ketika Nambi menghindar, tenaga pukulan jarak jauh Rangga Lawe menyasar ke arah pasukannya. Tenaga pukulan itu berbentuk bola-bola cahaya sebesar buah kelapa.

Menyadari ada serangan yang menyasar, para prajurit menjadi panik. Namun belum sempat mereka bereaksi, terjadi hal yang mencengangkan. Bola-bola cahaya itu tidak sampai kepada mereka karena seperti membentur sesuatu yang tidak nampak. Jaraknya kurang lebih tiga batang tombak dari tempat mereka berdiri. Itulah keampuhan aji Maya Baluwarti yang dihamparkan oleh Anabrang.


*****

Lima puluh jurus berlangsung dengan cepat dan belum ada satupun serangan Lawe yang menemui sasaran. Sementara itu Nambi tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan melakukan serangan balik meskipun berkali-kali kesempatan itu hadir. Rangga Lawe jelas merasa sangat direndahkan.

"Keparat kau Nambi, bisamu hanyalah melompat-lompat seperti bajing. Ayo lawanlah aku secara ksatria!"

"Hahaha, apakah aku kurang ksatria. Ayolah, kerahkan seluruh kemampuanmu. Kalahkan aku!"

Darah Lawe semakin mendidih, ia melompat tiga batang tombak ke belakang. Sebelum kakinya tiba ke tanah, tubuh Lawe berputar-putar sangat cepat. Udara di sekitar palagan itu tiba-tiba saja menjadi panas, semakin panas. Kini tubuh Rangga Lawe seperti mengeluarkan ombak berbentuk kobaran-kobaran api. Itulah aji Samudra Murup, ajian andalan Rangga lawe yang biasa digunakan menumpas musuh secara massal.

Wajah Nambi sedikit berubah, tidak lagi tenang seperti tadi. Ia paham betapa dahsyatnya aji Samudera Murup. Segera ia mengerahkan aji Lembu Sekilan pada tataran yang tertinggi, Nambi tidak ingin mati konyol.

Gelombang pasang serangan segera datang dengan sangat cepat. Tubuh Nambi seperti tenggelam di dalam lautan api. Memang, jilatan-jilatan api yang sangat panas itu tidak mampu menyentuh kulit Nambi, tapi tetap saja ia merasakan panasnya. Nambi gelagapan beberapa saat, ia sadar bahwa lama-kelamaan aji Lembu Sekilan yang dipasangnya akan bobol, dan itu berarti maut baginya.

Segera Nambi mengerahkan aji Bayunetra dan Jalaroba sekaligus. Kedua ajian itu tidak kasat mata dan hanya terlihat dari akibatnya. Lautan api yang dipasang oleh Rangga Lawe tiba-tiba saja surut, semakin surut, dan akhirnya hilang. Udara di sekitarnya kembali mendingin.

Nambi menarik nafas lega, ia merasa selamat dari maut. Namun tak urung tubuhnya terasa lemas akibat beberapa saat menahan gempuran aji Samudra Murup milik Rangga Lawe.

Lawe sendiri sebenarnya mengalami hal yang sama.

Demikianlah artikel dari Kontakmedia yang berjudul Banjir Darah Di Tepi Sungai Tambakberas - Bagian Keenam, semoga bermanfaat. Dan terima kasih untuk Anda yang telah berkunjung ke blog ini.