Fenomena Mencari Keadilan di Dunia Fana

Fenomena Mencari Keadilan di Dunia Fana

Fenomena Mencari Keadilan di Dunia Fana - Sejak manusia pertama kali menghuni dunia, nilai keadilan telah menjadi sesuatu yang diburu bahkan diperebutkan. Tersebutlah nabi Adam AS bermaksud mengembangbiakkan manusia agar bisa memenuhi bumi. Pada saat itu sang nabi memiliki putra-putri yang lahir secara kembar. Di antara mereka tersebutlah Qabil dengan kembarannya yaitu Iqlima, kemudian Habil dengan kembarannya Labuda.

Pada saat itu syariát melarang saudara kembar dinikahi, oleh karena itu nabi Adam menikahkan Qabil dengan Labuda, kemudian Habil dengan Iqlima. Secara paras, Iqlima jauh lebih cantik dari Labuda, dan di sinilah asal-muasal permasalahan. Qabil merasa keputusan ayahnya tidak adil, menurut rasa keadilan versi Qabil, dirinyalah yang pantas dinikahkan dengan Iqlima.

Untuk dapat lebih memberi ilustrasi, inilah daftar putra-putri Adam As :
  1. Abdullah dan saudara perempuannya
  2. Cayn dan saudara perempuannya
  3. Qobil dan Iqlima,
  4. Ashut dan saudara perempuannya.
  5. Habil (Abel) dan Labuda,
  6. Syts
  7. Ayad dan Hazura,
  8. Balagh dan saudara perempuannya,
  9. Athati dan saudara perempuannya,
  10. Tawbah dan saudara perempuannya,
  11. Darabi dan saudara perempuannya,
  12. Hadaz dan saudara perempuannya,
  13. Yahus dan saudara perempuannya,
  14. Sandal dan saudara perempuannya,
  15. Baraq dan saudara perempuannya.
  16. Wadd dan dan saudara perempuannya,
  17. Suwa dan saudara perempuannya,
  18. Yaghuth dan saudara perempuannya,
  19. Ya’uq dan saudara perempuannya
  20. Nasr dan saudara perempuannya
Urutan putra-putri Nabi Adam As ini masih belum dipastikan dengan baik. Hanya ada riwayat yang mengatakan bahwa Habil adalah putra ke-empat, Dan Nabi Syts adalah putra ke-5 yang menikah dengan adiknya Hazura putra/putri ke-enam nabi Adam a.s.

Sekalipun urutannya belum dapat dipastikan dengan baik, peristiwa Qabil membunuh Habil, karenamerasa tindakan nabi Adam tidak adil, adalah disebut di dalam Al Qurán. Oleh karena itu kebenarannya adalah pasti.

Rasa ketidakadilan Qabil adalah dipicu oleh iri dengki, ia merasa tidak suka saat Habil memperoleh sesuatu yang dalam penilaian Qabil lebih baik. Dalam keadaan seperti ini, Qabil mustahil memperoleh keadilan sebagaimana yang ia inginkan karena bertentangan dengan syariát Allah Azza wa Jalla. Andaipun, karena secara fakta tidak terjadi, hanya pengandaian saja, andaipun saat itu Qabil bisa memperoleh Iqlima maka hakikatnya ia tidak sedang mendapat keadilan tetapi sekedar mampu memuaskan nafsunya saja, nafsu untuk menikahi Iqlima meskipun harus melanggar aturan Allah.

No comments:

Terima kasih bila anda berkenan berkomentar secara relevan.
Dan tunggu kunjungan balik saya ke situs anda.