Waspada Terhadap Ungkapan-Ungkapan Populer


Waspada Terhadap Ungkapan-Ungkapan Populer - Pernahkah kita berpikir bahwa ungkapan bisa menjadi keyakinan bagi seseorang atau bahkan bagi sekelompok besar orang? Contoh kasus adalah disaat seseorang sedemikian terhimpit oleh kesulitan hidup, lalu dari lisannya sering terungkap kalimat : Semua akan indah pada waktunya. Sepintas lalu tidak ada masalah dengan ungkapan tersebut, bahkan nampak sangat indah dan menyiratkan kesabaran serta harapan, namun mari kita tinjau lebih dalam.

Kata semua pada ungkapan di atas secara gamblang bisa diartikan sebagai keseluruhan hal, hal apapun tanpa kecuali akan berakhir dengan indah. Lalu bagaimana jika yang digunakan sebagai barometer adalah aqidah atau keyakinan Islam? Tentu saja ungkapan di atas menjadi gugur. Prinsipnya sederhana saja, bahwa dalam keyakinan Islam ada neraka selain syurga, dengan demikian timbul pertanyaan : Apakah indah jika berakhir di neraka untuk kekal selamanya?

Opini penulis ini akan terkesan didramatisir apabila, sekali lagi, tidak munculnya kesadaran bahwa suatu ungkapan sangat berpotensi menjadi keyakinan. Dan disaat meyakini bahwa semua akan indah pada waktunya, maka ancaman dari siksa api neraka juga diabaikan. Karena bagi seseorang yang sangat meyakini bahwa semua akan indah pada waktunya, maka hanya ada syurga dan tidak ada neraka.

Bukan Islam namanya jika tidak memiliki penawar terhadap hal-hal yang fundamental seperti ini. Kaum muslimin yang mau berpikir kritis tentu akan membuat ungkapan sanggahan seperti : Tidak, tidak semua akan indah pada waktunya, melainkan akan adil pada waktunya.

Dalam keyakinan Islam, semua akan adil pada waktunya. Tentu saja tergantung dari amaliah masing-masing.

Disadari atau tidak, di masyarakat kita sangat banyak beredar ungkapan yang sepintas lalu, sekali lagi, sangat indah, tetapi sesungguhnya bila dikritisi lebih dalam akan nampak kekeliruannya. Ungkapan seperti Kasih Ibu Sepanjang Jalan Kasih Anak Sepenggalah misalnya, ungkapan tersebut sangat jauh dari prinsip keyakinan Islam yang mngajarkan bahwa kasih-sayang anak (yang shaleh) sungguh tidak hanya sepengglah, melainkan bisa sampai ke akhirat.

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Bila kita berpegang pada hadits di atas, dan menjadikan Al Qurán serta Hadits sebagai rujukan serta pedoman, maka tidak akan mudah kaum muslimin terjebak untuk menggunakan ungkapan-ungkapan tanpa merenungkannya terlebih dahulu.

Wallahu álam bishawab

No comments:

Terima kasih bila anda berkenan berkomentar secara relevan.
Dan tunggu kunjungan balik saya ke situs anda.