Kamis, 04 Juli 2019

Jatuh Bangun Rintisan Usaha Diguni Collection

Jatuh Bangun Rintisan Usaha Diguni Collection - Tulisan yang Anda baca ini adalah hasil wawancara Tim Community Development PT. Krakatau Steel yang dilakukan dalam rangka monitoring kinerja para mitra binaan. Divisi Community Development adalah salah-satu unit kerja PT. Krakatau Steel yang bertugas menjalankan Program Kemitraan dan Bina lingkungan.


PKBL bukan hanya membantu UMKM dari sisi pendanaan tetapi juga pembinaan, dan di antara praktek pembinaan adalah menetapkan sejumlah mitra unggulan. Dan untuk tahun 2019 ini Diguni Collection masuk dalam daftar mitra unggulan untuk wilayah Serang.


Diguni Collection adalah usaha konveksi berlevel UMKM yang saat ini termasuk sebagai mitra binaan PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, yang dijalankan oleh Divisi Community Development, Diguni Collection memperoleh pinjaman periode ke-2 setelah lunas pinjaman periode ke-1.


Pembaca, Anda pasti sering menemukan berbagai usaha ekonomi yang sukses. Bidang usaha dan ragam komoditinya bisa bermacam-macam, sesuai dengan selera serta kebutuhan manusia. Dari semua itu, selalu ada kisah yang melatarbelakanginya. Dan di antara kisah-kisah tersebut tidak sedikit yang mengandung fragmen jatuh-bangunnya saat rintisan usaha. Sekarang kami akan bertutur tentang itu, yakni rintisan usaha Diguni Collection.

Profil Singkat Sang Perintis

Suhendar atau yang akrab disapa sebagai Dadang adalah seorang pria berusia 56 tahun, pada bulan Oktober 2019 yang akan datang ia akan pensiun dari PT. Krakatau Steel. Posisi terakhirnya adalah teknisi (posisi setingkat foreman) di Dinas Telekomunikasi.


Pria berpembawaan tenang ini merintis usaha sejak tahun 2002, dan karena kesibukannya sebagai karyawan maka operasional usaha dijalankan oleh sang istri, yaitu Yulia Budiarti.

Dari pernikahannya dengan Yulia Budiarti, Suhendar dikaruniai tiga orang anak yaitu Diki, Gugun, dan Nisa. Kelak singkatan nama ketiga anaknya inilah yang dijadikan brand Diguni.

Lahirnya nama Diguni tidak terlepas dari "protes" anak-anaknya saat ia menjalankan Nisa Bakery, yang mana brand Nisa tersebut hanya merepresentasikan anaknya yang bungsu. Akhirnya brand Diguni Collection inilah yang digunakan untuk usaha konveksinya paska Nisa Bakery tidak lagi dioperasikan.

Kisah Perintisan Usaha

Sebagaimana umum terjadi, kenyataan bahwa gaji yang diterimanya sebagai karyawan kurang dapat memenuhi kebutuhan hidup, Suhendar menjalankan usaha sampingan yang secara operasional sehari-hari dominan dijalankan oleh sang istri. Berbagai ragam usaha dijalaninya mulai dari percetakan hingga produksi roti.

Dengan menggunakan brand Nisa Bakery, pada awalnya usaha Suhendar berjalan lancar-lancarnya. Ia sanggup memperoleh penghasilan tambahan sekaligus menjadi tiang ekonomi bagi beberapa karyawan yang bekerja menjajakan rotinya. Untung tidak dapat diraih malang tidak dapat ditolak, sekitar tahun 2017 ia harus menghentikan usaha rotinya karena ditipu. Uang senilai hampir Rp 300 juta raib.

Musibah yang terjadi pada Nisa Bakery tentu saja membuat Suhendar sangat terpukul, usaha yang ia rintis dengan susah-payah hingga akhirnya bisa lancar beroperasi mendatangkan income tambahan, harus gulung-tikar karena ditipu orang lain.

Di saat Suhendar sedang berusaha untuk bangkit, ia mendapat inspirasi dari ustadz Kasman. Sang ustadz cukup dikenal di wilayah Banten sebagai pengelola pesantren Hayatusunnah, Serang. Saat itu ustadz kasman menyarankan agar Suhendar mencoba usaha konveksi.

Lahirnya Diguni Collection

Menggunakan sisa tabungan yang ada, Suhendar membeli tiga buah mesin jahit. Harga sebuah mesin jahit adalah Rp 4.5 juta. Mesin-mesin tersebut dioperasikan oleh rekan-rekannya yang aktif di Majelis Taklim Hayatusunnah.


Perlahan tapi pasti Diguni Collection terus berkembang dari mulut ke mulut. Kemudian untuk semakin memperkuat sisi promosi, Suhendar tidak sungkan-sungkan untuk sering berkeliling membagi-bagikan kartu namanya. Kerja keras Suhendar tidak sia-sia, promosinya bahkan sanggup memikat Kapolda Banten untuk menggunakan produk-produknya.

Sebelum memiliki karyawan dengan komposisi seperti sekarang, Suhendar cukup sering berganti-ganti karyawan, dan kisah pahit juga terjadi di sini. Di antara karyawannya banyak yang tidak jujur serta berkomitmen rendah. Suhendar sempat mengalami kerugian dengan angka yang hampir sama saat ia mengelola Nisa Bakery.


Sebagaimana biasa terjadi, dalam sistem kerja seperti yang Suhendar jalankan, para karyawan meminjam uang. Total uang yang dipinjamkan untuk beberapa karyawan tadi hampir senilai Rp 300 juta, dan itu tidak kembali karena mereka kabur. Tapi Suhendar tidak patah arang, ia terus berusaha dan berusaha.

Kini Diguni Collection  memiliki 14 orang karyawan. Dengan menggunakan manajemen kekeluargaan yang menekankan pada sisi sentuhan personal, para karyawan itu setia untuk terus bekerja bersama Suhendar.

Suhendar yang mampu tegar saat terjatuh, akan terus melangkah pasti dengan usahanya sekarang yang boleh dikatakan telah cukup maju.

Kiat-Kiat Sukses Diguni Collection

Suhendar sangat terbuka ketika kami menanyainya tentang kiat-kiat yang ia jalankan agar usahanya sukses. Berikut kami merangkumnya untuk anda.

Kiat Pertama : Jangan Mudah Menyerah
Karakter tidak mudah menyerah adalah hal yang wajib dimiliki oleh siapapun, termasuk pelaku UMKM. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi pengusaha, maka sesungguhnya ia sedang menuju ke atau berada di suatu palagan yang penuh dengan rintangan sekaligus peluang. Mereka yang mudah menyerah akan kalah oleh rintangan sebelum mampu memanfaatkan peluang. Suhendar mencontohkan bahwa untuk usaha, apapun bisa jadi uang. Tergantung cara kita memanfaatkan itu.

Kiat Kedua : Jangan Malas
Bergerak bergerak dan bergerak selama masih mampu, itulah yang dilakukan oleh Suhendar. Ketika rasa malas tidak dilawan, maka sekalipun mampu maka seseorang tidak akan bergerak.

Kiat Ketiga : Jadikan Karyawan Merasa Nyaman
Banyak di antara usaha yang terseok-seok karena komitmen karyawannya yang rendah. Keadaan seperti ini bisa saja timbul karena para karyawan tidak nyaman. Maka salah-satu hal yang dilakukan oleh Suhendar adalah semaksimal mungkin membuat suasana nyaman untuk para karyawannya. Sentuhan-sentuhan manusiawi adalah cara terbaik untuk membuat suasana nyaman tersebut.

Kiat Keempat : Jadikan Para Pelanggan dan Calon Pelanggan Nyaman
Tidak berbeda dengan karyawan, para pelanggan dan calon pelanggan juga harus dibuat nyaman. Suhendar berkisah bahwa ia menyediakan arena bermain untuk anak-anak saat orang tuanya (calon pelanggan atau pelanggan) sedang bernegosiasi dengannya. Ia menyediakan itu agar kenyamanan komunikasi tercipta, tidak terganggu oleh rengekan anak-anak yang meminta pulang.

Demikianlah artikel dari Kontakmedia yang berjudul Jatuh Bangun Rintisan Usaha Diguni Collection, semoga bermanfaat. Dan terima kasih untuk Anda yang telah berkunjung ke blog ini.

Lucky Bachtiar

Seorang blogger pemula yang tidak lagi muda